Sabtu, 28 November 2009



"MENERIMA SANG PEMBERONTAK"
Penyebab ataupun alasan dari sebuah pemberontakan adalah merasa kurang puas terhadap system yang berlaku dalam sebuah negara, perusahaan atau bahkan lebih sering muncul di sebuah keluarga, baik keluarga kecil maupun keluarga besar, atau keluarga sebuah ikatan misalkan saja sebuah organisasi yang pernah ada atau bahkan pemberontakan juga dilakukan oleh jemaat sebuah gereja, hal ini memang sangat disayangkan.
Kalau diamat-amati memang sejak lama injil juga sudah memberikan sebuah perumpamaan tentang hal tersebut diatas (Luk 15:11-32)
Di Injil memang dijelaskan secara rinci, bagaimana seorang anak merasa tidak puas dengan system yang diterapkan pada sebuah keluarga tersebut, dan singkat cerita, akhirnya anak tersebut dengan persetujuan ayahnya maka ia pergi meninggalkan semua hal milik ayahnya dengan catatan ayahnya membagi yang menjadi haknya.
Kalau kita dengar selama ini orang yang pasti menitik beratkan tentang anak durhaka tersebut, namun coba kita bayangkan jika hal itu terjadi terhadap anak-anak kita, atau terhadap orang yang kita kasihi, ketika anak-anak kita memberontak terhadap kita, pernahkah kita bisa mengampuni anak-anak kita ketika ia mencoba kembali?, atau mungkin dalam hati kita, kita berfikir, wah lumayan lepas bebanku karena si sontoloyo itu akan segera pergi...?Hal ini biasanya disampaikan pendeta pada saat jemaatnya mulai goyah imannya, maka ia selalu berkata Tuhan mengasihimu, namun saya belum pernah mendengar Pendeta berkata kepada jemaat yang dalam dilema seperti ini berkata saya mengasihimu, demikian juga seorang ayah atau ibu atau juga keluarga, ketika anaknya kembali, ia bisa menerima anak-anak itu tanpa harus berkata, makanya kalau orang tua ngomong itu didengar, atau coba aja kalau, misalkan aja kamu, seandainya kamu, terkadang saya juga berfikir, kenapa sang ayah tidak mencari anak ini..?, kenapa sang ayah membiarkan anak ini pergi begitu saja, tanpa penjelasan, bahkan mestinya satu hal yang sangat mengerikan ini terjadi seandainya sang ayah sedikit bertindak agresif untuk anaknya ini, dalam firman Tuhan ini menunjukan bahwa Tuhan memang memberikan hak mutlak terhadap diri manusia itu masing-masing, sehingga manusia bisa bebas bertindak ataupun bebas menentukan pilihannya, tetapi bagi kita orang-orang yang dikasihi Tuhan, ayat ini lebih berkesinambungan dengan ayat sebelumnya yaitu Luk 15:1-10, Tuhan akan mencari kemanapun kita tersesat, bahkan Tuhan rela memberikan apa saja demi kita, namun apakah ini bisa pahami oleh para orang tua, para pimpinan, oleh para pendeta?, apakah ketika siap memberi ampunan, atau apakah kita siap mencari anak-anak, pegawai, jemaat yang memberontak?, yang jadi permasalahan sekarang, manusia ini di tumbuhi rasa malu, rasa gengsi atau rasa yang lainnya, sehingga dia tidak berani pulang, maukah kita berlapang dada untuk menerima, memakaikan jubah atas dirinya atau memberi cincin seperti yang dilakukan dalam perumpamaan tadi?
Jawabannya tergantung pada diri anda masing-masing, dan jangan anda lakukan jika sekarang anda lebih merasa nyaman tanpa ada sang pemberontak dalam kehidupan anda